"Wakil Rakyat, seharusnya merakyat..", demikian cuplikan tembang berjudul "Surat Buat Wakil Rakyat" yang dipopulerkan oleh Iwan Fals. Sebagai bagian dari rakyat kecil, saya tentu mengiyakan seratus persen soal ini. Eh, lha tapi nyatanya malah membangun gedung tingi-tinggi sampai 36 lantai dengan dana sampai triliunan rupiah. Kalau ditilik dari namanya, wakil rakyat, tentu segala tindakan, sikap, dan ucapan mesti dilakukan agar semakin mendekati identitasnya atau telos-nya, ya wakil rakyat itu sendiri. Kalau berbalik dari identitasnya, berarti sebutan wakil rakyat yang sudah disandang mesti dicopot. Jadi, wakil parpol atau mungkin lebih cocok jadi broker saja, wehehehe...
Malam ini kampus STF driyarkara mengadakan acara "Malam Budaya" dalam rangka Dies Natalis ke-42. Temanya sendiri saya nggak begitu ngeh (maap buat Benny, mas ketua panitia, wehehe..). Setelah disuguhi berbagai tampilan seperti band, koor, teater (empat jempol buat Teater Rakyat!!), kami semua disuguhi makan malam. Tidak menyangka tidak menyana, ternyata di halaman kampus pasca-sarjana sudah berjejer rapi bakul sego goreng, sate ayam, soto mie, bakso telor (ini bakso Ciatt belakang kampus ya?), es campur, dan jajanan. Mungkin ide ini sudah jamak dilakukan di mana-mana, tapi jadi luar biasa ketika salah satu sudut STF Driyarkara disulap jadi kantin. Harap maklum, kampus kami memang tidak memiliki kantin, hehe.. Dengan diterangi dua lampu sorot, taman yang indah (meski lampu tamannya dimatiin, meski rumput tamannnya ga boleh diinjak; dengar-dengar rumput khusus buat main golf, hehe just kidding bro!) dan iringan live music kolaborasi teman-teman sendiri, suasana kampus jadi lebih semarak, lebih ndemenakke, lebih manusiawi, dan tentu lebih merakyat.
Filsafat boleh berpikir mengawang, berabstraksi tanpa batas, melanglang buana di langit-langit akal budi. Tetapi manusianya tetaplah manusia yang suka bakso (hayo siapa yang ndobel???), yang suka ngrokok setelah makan, yang suka joget kalau dengar musik rege (bener ga??) dan dangdut (dangdut is the music of my country). Lalu mulai muncul kelompok-kelompok, mulai kelompok penikmat makanan, kelompok penikmat musik, kelompok penjoget, dan yang terakhir kelompok ngobrol. Topik diskusinya macam-macam, mulai dari kuliah sampai soal makanan. Sekilas saya ingat dengan kuliah filsafat politik dari Pak Budi Hardiman soal ruang publik. Saya kira ruang-ruang macam inilah yang mesti diperbanyak karena dari ruang-ruang macam inilah perdebatan, diskursus, tukar pandangan terjadi. Kalau dihubungkan dengan soal wakil rakyat, ya seharusnya para wakil rakyat itu sering-sering membuat acara seperti ini, tidak hanya biar tahu aspirasi dari masyarakat, tetapi terlebih dalam ruang-ruang publik semacam ini rakyat bisa berpartisipasi sebagai warganegara dengan melontarkan opini-opininya sebagai bentuk kontrol bagi pemerintah.
Sekali lagi proficiat buat panitia Malam Budaya dan selamat bagi STF Driyarkara. Selamat Makan!!
No comments:
Post a Comment