Teilhard tidak hanya menunjukkan diri sebagai seorang ilmuwan, yang bekerja dengan obyektivitas da detil data, tetapi ia juga pemikir yang berefleksi tentang implikasi penemuan ilmiah bagi manusia. Bagi Teilhard, dunia tidak hanya didekati sebagai fenomena saja, tetapi ia melihatnya sebagai fenomena secara keseluruhan, sebagai dunia "in toto". Pendekatan ini oleh Teilhard disebut "Fenomenologi Kosmos", yang membahas keseluruhan fenomenon kosmik. Dengan bantuan sains dalam berbagai bidang sekaligus mengatasinya, Teilhard berusaha mendalami struktur dan "dinamika batin" dari kosmos. Tentu keseluruhan selalu lebih dari bagian-bagian.
Teilhard menekankan tiga ciri dari pandangannya tentang dunia:
(1) alam semesta memiliki dimensi yang sangat banyak
(2) alam semesta "membentuk diri" secara organik menjadi keseluruhan
(3) gerak dari alam semesta didorong oleh "dinamika batin" dan energi menuju kepenuhannya
Dengan denikian Teilhard melihat dunia dalam perspektif evolutif dan historis. Evolusi biologis, yaitu mutasi berbagai bentuk kehidupan, telah mempersiapkan evolusi kosmik. Hukum evolusi berlaku bagi kosmos secara keseluruhan di mana alam semesta merupakan suatu sistem dalam proses "menjadi" (becoming) dan proses pertumbuhan. Di dalam proses itu manusia memiliki posisi khusus, karena manusia merupakan ekspresi tertinggi dari energi yang berjalan/operatif dalam dunia. Dunia sendiri merupakan kontinuum berdimensi empat:
- secara organik bersifat kohesif
- berkembang dalam ruang dan waktu
- merupakan keseluruhan yang berevolusi
- terwujud secara penuh di dalam diri manusia
TAHAP-TAHAP EVOLUSI ALAM SEMESTA
Evolusi alam semesta terdiri atas tiga tahap:
- terbentuknya bumi/materi (geosfer)
- terjadinya kehidupan (biosfer) atau vitalisasi materi, dan
- munculnya budi (mind) atau hominisasi kehidupan (noosfer)
Ada dua prinsip yang mengatur evolusi:
- "kompleksitas" yang meningkat (increasing complexity) dan
- "kesadaran" yang meningkat (ascending psychism/consciousness)
to be continued...
Monday, 18 April 2011
Saturday, 16 April 2011
Cuilan Galeri Seminari Garum 2001-2005 (1)
Jongkok ki-ka: Niko(santo), George(item), Aria(jepank),
Berdiri ki-ka: Reza, Dani(atenk), saya sendiri, Gre(gendro), Beny(bendot)
ki-ka: saya sendiri, gendro, Arlian(simal)
ket: foto ini diambil ketika tahbisan Rm Gigih CM di Surabaya..
ki-ka: Thomas(thomson), reza, item, jepank, belakangnya: Andri(natan), saya, Yosep Handoko, dan gendroyono...
Ket: foto ini diambil ketika kami menjadi panitia kemping seminari tahun 2005 di kaki gunung kelud. Di sini kami sedang checking rute menuju air terjun tiga tingkat...(wah, dalane angel tenan, akeh lintahe sisan..)
Ket: Seangkatan berpose bersama karena jadi juara SVGames. Foto ini diambil tahun 2004 ketika kami kelas 4...
berdiri ki-ka: santo, saya, item, gendro
jongkok ki-ka: jepank, domi(dopeng), bendot
Pose bersama memakai 'jubah' dengan background mobil yang biasa dipakai utk mobilitas suster2....
Foto seangkatan ketika kelas 4 (2004) dengan memakai seragam seminari (atas krem bawah coklat). Utk kelas 4, seragam ini dipakai hanya ketika hari Senin dan Selasa saja...
Garum senantiasa berkesan. Tak pernah kurasakan penyesalan, pun tak pernah kurasakan masa mudaku menghilang... Yang tergurat adalah kebanggaan...
Thursday, 14 April 2011
GALI LOBANG TUTUP LOBANG
Orang menggali pasti perlu untuk menutup, kecuali memang sengaja untuk bikin lobang. Apalagi dalam konteks hutang-berhutang. Buat negara kita tercinta, gali lobang tutup lobang sangat pas untuk menggambarkan bagaimana hutang-hutang itu dilunasi dengan hutang-hutang baru. Dengar-dengar, hutang bukanlah sesuatu yang melulu negatif karena justru hidup orang sekarang ditopang oleh hutang. Lihat saja kartu kredit, bukannya itu modifikasi canggih dari hutang?
Tapi di sini saya tidak mau cerita soal hutang. Saya sungguhan mau membahas soal lubang. Sepuluh hari yang lalu, ada surat dari RT. Isinya kurang lebih pemberitahuan akan adanya penggalian jalan di depan rumah demi peremajaan jaringan PLN. Buset, ada galian lagi nih! Begitu komentar dalam hati. Bukannya menolak, tp berangkat dari pengalaman galian-galian seperti itu selalu tidak beres. Kira2 satu setengah tahun lalu, sisi satunya jalan di depan rumah sudah digali dan sampai sekarang tambalannya tetep kelihatan. Bahkan, bekas galian di depan rumah malah makin parah, alias makin dalem. Kalau sisi satunya lagi mau digali, jangan-jangan nanti malah bikin jalan tambah parah.
Seminggu yang lalu, hari Jumat, proyek itu mulai dilaksanakan. Tidak tanggung-tanggung, proyek berjalan 24 jam. Artinya, mulai pagi sampai pagi para pekerja terus bekerja non-stop. Tapi saya tidak mengikuti perkembangan proyek galian depan rumah sampai selesai karena kebetulan, hari minggunya saya punya misi pergi menengok saudara yang sakit di Semarang. Berangkat naik kereta dan pulang naik mobil bareng2 saudara. Niatnya sedari awal mau tidur di jalan karena jumat depan mau ujian, eh ternyata malah gak kesampaian. Gimana bisa tidur, sepanjang perjalanan yang ada jalannya rusak semua, bolong-bolong, dan bikin perjalanan jauh dari nyaman. Mulai dari Kendal, jalan yang bergelombang mulai menggoyang. Tapi mulai parah selepas Pemalang sampai Cikampek. Tentu sedikit nyaman ketika masuk tol, di Kanci dan Cikampek. Selain itu, jangan tanya. Yang jelas sepanjang perjalanan, di mana saya jadi co-driver ikut bantu pak sopir lihat jalanan, yang ada hanya mobil goyang. Sesekali mobil itu bermanuver zig-zag demi mencari aspal yang masih layak dilewati ditemani sport jantung tanpa henti.
Kenapa ya sepanjang jalan di Pantura banyak yang rusak? Pertanyaan klise memang dan saya tidak mau menjawabnya. Atau jangan-jangan memang 'normalnya' rusak, jadi kalau jalannya mulus itu malah luar biasa? Jadi yang normal adalah yang rusak dan justru tidak normal ketika jalan itu mulus. Atau jangan2 karena orang kita lebih suka gali lobang tutup lobang? Jadi lobang di sini ditutup seadanya dengan melobangi yang lain.
Sama aja bo'ong dong, gitu kata orang.
Saturday, 9 April 2011
Kampus: STF DRIYARKARA MERAKYAT
"Wakil Rakyat, seharusnya merakyat..", demikian cuplikan tembang berjudul "Surat Buat Wakil Rakyat" yang dipopulerkan oleh Iwan Fals. Sebagai bagian dari rakyat kecil, saya tentu mengiyakan seratus persen soal ini. Eh, lha tapi nyatanya malah membangun gedung tingi-tinggi sampai 36 lantai dengan dana sampai triliunan rupiah. Kalau ditilik dari namanya, wakil rakyat, tentu segala tindakan, sikap, dan ucapan mesti dilakukan agar semakin mendekati identitasnya atau telos-nya, ya wakil rakyat itu sendiri. Kalau berbalik dari identitasnya, berarti sebutan wakil rakyat yang sudah disandang mesti dicopot. Jadi, wakil parpol atau mungkin lebih cocok jadi broker saja, wehehehe...
Malam ini kampus STF driyarkara mengadakan acara "Malam Budaya" dalam rangka Dies Natalis ke-42. Temanya sendiri saya nggak begitu ngeh (maap buat Benny, mas ketua panitia, wehehe..). Setelah disuguhi berbagai tampilan seperti band, koor, teater (empat jempol buat Teater Rakyat!!), kami semua disuguhi makan malam. Tidak menyangka tidak menyana, ternyata di halaman kampus pasca-sarjana sudah berjejer rapi bakul sego goreng, sate ayam, soto mie, bakso telor (ini bakso Ciatt belakang kampus ya?), es campur, dan jajanan. Mungkin ide ini sudah jamak dilakukan di mana-mana, tapi jadi luar biasa ketika salah satu sudut STF Driyarkara disulap jadi kantin. Harap maklum, kampus kami memang tidak memiliki kantin, hehe.. Dengan diterangi dua lampu sorot, taman yang indah (meski lampu tamannya dimatiin, meski rumput tamannnya ga boleh diinjak; dengar-dengar rumput khusus buat main golf, hehe just kidding bro!) dan iringan live music kolaborasi teman-teman sendiri, suasana kampus jadi lebih semarak, lebih ndemenakke, lebih manusiawi, dan tentu lebih merakyat.
Filsafat boleh berpikir mengawang, berabstraksi tanpa batas, melanglang buana di langit-langit akal budi. Tetapi manusianya tetaplah manusia yang suka bakso (hayo siapa yang ndobel???), yang suka ngrokok setelah makan, yang suka joget kalau dengar musik rege (bener ga??) dan dangdut (dangdut is the music of my country). Lalu mulai muncul kelompok-kelompok, mulai kelompok penikmat makanan, kelompok penikmat musik, kelompok penjoget, dan yang terakhir kelompok ngobrol. Topik diskusinya macam-macam, mulai dari kuliah sampai soal makanan. Sekilas saya ingat dengan kuliah filsafat politik dari Pak Budi Hardiman soal ruang publik. Saya kira ruang-ruang macam inilah yang mesti diperbanyak karena dari ruang-ruang macam inilah perdebatan, diskursus, tukar pandangan terjadi. Kalau dihubungkan dengan soal wakil rakyat, ya seharusnya para wakil rakyat itu sering-sering membuat acara seperti ini, tidak hanya biar tahu aspirasi dari masyarakat, tetapi terlebih dalam ruang-ruang publik semacam ini rakyat bisa berpartisipasi sebagai warganegara dengan melontarkan opini-opininya sebagai bentuk kontrol bagi pemerintah.
Sekali lagi proficiat buat panitia Malam Budaya dan selamat bagi STF Driyarkara. Selamat Makan!!
Malam ini kampus STF driyarkara mengadakan acara "Malam Budaya" dalam rangka Dies Natalis ke-42. Temanya sendiri saya nggak begitu ngeh (maap buat Benny, mas ketua panitia, wehehe..). Setelah disuguhi berbagai tampilan seperti band, koor, teater (empat jempol buat Teater Rakyat!!), kami semua disuguhi makan malam. Tidak menyangka tidak menyana, ternyata di halaman kampus pasca-sarjana sudah berjejer rapi bakul sego goreng, sate ayam, soto mie, bakso telor (ini bakso Ciatt belakang kampus ya?), es campur, dan jajanan. Mungkin ide ini sudah jamak dilakukan di mana-mana, tapi jadi luar biasa ketika salah satu sudut STF Driyarkara disulap jadi kantin. Harap maklum, kampus kami memang tidak memiliki kantin, hehe.. Dengan diterangi dua lampu sorot, taman yang indah (meski lampu tamannya dimatiin, meski rumput tamannnya ga boleh diinjak; dengar-dengar rumput khusus buat main golf, hehe just kidding bro!) dan iringan live music kolaborasi teman-teman sendiri, suasana kampus jadi lebih semarak, lebih ndemenakke, lebih manusiawi, dan tentu lebih merakyat.
Filsafat boleh berpikir mengawang, berabstraksi tanpa batas, melanglang buana di langit-langit akal budi. Tetapi manusianya tetaplah manusia yang suka bakso (hayo siapa yang ndobel???), yang suka ngrokok setelah makan, yang suka joget kalau dengar musik rege (bener ga??) dan dangdut (dangdut is the music of my country). Lalu mulai muncul kelompok-kelompok, mulai kelompok penikmat makanan, kelompok penikmat musik, kelompok penjoget, dan yang terakhir kelompok ngobrol. Topik diskusinya macam-macam, mulai dari kuliah sampai soal makanan. Sekilas saya ingat dengan kuliah filsafat politik dari Pak Budi Hardiman soal ruang publik. Saya kira ruang-ruang macam inilah yang mesti diperbanyak karena dari ruang-ruang macam inilah perdebatan, diskursus, tukar pandangan terjadi. Kalau dihubungkan dengan soal wakil rakyat, ya seharusnya para wakil rakyat itu sering-sering membuat acara seperti ini, tidak hanya biar tahu aspirasi dari masyarakat, tetapi terlebih dalam ruang-ruang publik semacam ini rakyat bisa berpartisipasi sebagai warganegara dengan melontarkan opini-opininya sebagai bentuk kontrol bagi pemerintah.
Sekali lagi proficiat buat panitia Malam Budaya dan selamat bagi STF Driyarkara. Selamat Makan!!
Sunday, 3 April 2011
ALBERTUS AGUNG Albert The Great (1205-1280)
Biografi Singkat
Albertus Agung (Albert The Great) lahir sekitar tahun 1205-an di Lauingen an Der Donau, Jerman. Pada tahun 1223 dia belajar di Universitas Padua, dan pada tahun yang sama dia diterima masuk Ordo Dominikan. Dia dikirim ke Cologne untuk belajar teologi sampai tahun 1228 dan setelah itu dia mengajar di beberapa rumah Dominikan di Jerman. Albertus menyelesaikan studi teologi dan mengambil master teologi di Universitas Paris. Thomas Aquinas termasuk salah seorang muridnya di Paris dan pernah mengikutinya ke Jerman dimana Albertus mendirikan suatu “studium generale” bagi Ordo Dominikan, hingga akhirnya Thomas kembali ke Paris dan Albertus dipilih sebagai Prior Provincial Jerman pada tahun 1254. Albertus pernah mendapat tugas dari Paus Aleksander IV untuk pergi ke Anagni dan berbicara dengan suatu Komisi Kardinal yang sedang memperhatikan masalah klaim William dari St. Amour melawan ordo-ordo mendican. Pada tahun 1274 ketika sedang mengikuti Konsili Lyon Albertus menerima berita meninggalnya murid dan sahabatnya yaitu Thomas Aquinas, dan segera setelah itu dia kembali ke Jerman. Pada suatu saat di tahun 1277 Albertus pergi ke Universitas Paris untuk membela pemikiran Aquinas yang banyak diserang dan diperdebatkan di sana. Pada 15 November 1280 Albertus meninggal dan dimakamkan di Cologne. Pada tanggal 15 Desember 1231 Paus Pius XI menyatakan Albertus sebagai seorang santo dan doktor gereja dan setelah itu dinyatakan sebagai pelindung ilmu pengetahuan alam pada tanggal 16 Dsember 1241 oleh Paus Pius XII .
Metafisika
Secara hakiki iman harus dibedakan dengan pengetahuan yang diperoleh dengan akal. Pada pengetahuan suatu kebenaran diterima karena kejelasannya, yang dikuatkan dengan bukti-bukti. Tetapi tidak demikian dengan iman. Pada iman tiada kejelasan berdasarkan akal. Kebenaran yang diterima iman bukan karena kejelasan kebenaran itu. Perbuatan iman lebih berdasarkan atas rasa-perasaan daripada atas pertimbangan akal. Maka, isi kebenaran iman tidak dapat dibuktikan. Bahwa dunia diciptakan oleh Allah dalam waktu tidak dapat dibuktikan. Oleh karena itu penciptaan dalam waktu adalah suatu kebenaran iman. Akan tetapi bahwa Allah ada dapat dibuktikan, sekalipun pembuktian itu dilakukan secara a posteriori. Maka, “adanya Allah” bukan kebenaran iman, melainkan dasar iman.
Menurut Albertus, “beradanya Allah” dapat dibuktikan. Untuk membuktian adanya Allah, Albertus mengikuti jalan pikiran Aristoteles tentang adanya “Penggerak Pertama”. Jika benar Penggerak Pertama itu menjadi asas atas segala sesuatu, maka Penggerak Utama itu secara mutlak harus ada, yakni sebagai aktus murni dan tanpa potensi. Aktus murni tak lain adalah Akal yang mengenal diriNya sendiri secara murni. Jalan pikiran Aristoteles ini oleh Albertus ditambah dengan gagasan Dionisius dari Aeropagus yang menyatakan bahwa segala nama yang kita pakai untuk menyebut Allah sebenarnya tidak memadai karena Allah jauh lebih mulia daripada segala sebutan dan pengertian manusia. Mengenai penciptaan dikatakan bahwa segala sesuatu dihasilkan Allah sebagai Sebab Pertama secara bertingkat-tingkat . Jadi dalam hal ini penciptaan dijelaskan dengan teori emanasi Neoplatonisme . Meski demikian, Albertus tidak mengajarkan emanasi Neoplatonisme. Ia tetap memegang teguh gagasan tentang penciptaan menurut kitab suci, yaitu penciptaan dari “yang tidak ada” (creatio ex nihilo), sehingga tidak mungkin bahwa dunia telah ada sejak kekal. Bahwa dunia diciptakan oleh Allah adalah sebuah kebenaran iman yang tidak dapat dibuktikan oleh akal. Menurut Albertus, yang pertama-tama diciptakan oleh Allah adalah materi pertama (materia prima) yang berada secara murni potensial dan menjadi asas segala individuasi . Sama halnya dengan Aristoteles, Albertus tidak bisa menerima bahwa makhluk-makhluk yang murni rohani terdiri dari materi dan bentuk. Baginya, hanya malaikatlah yang memerlukan semacam dasar bagi bentuk mereka.
Dalam ajarannya mengenai universalia, ia menggabungkan pendapat Aristoteles dengan ajaran Neoplatonisme. Menurutnya, universalia hanya berada sebagai bentuk saja. Ada 3 macam cara berada bentuk-bentuk itu, yaitu:
a. Sebagai bentuk-bentuk yang berada di dalam kesadaran atau akal Allah, yaitu idea-idea atau pola dasar segala yang berada secara konkrit di dunia ini. Segala sesuatu yang diciptakan Allah diciptakan sesuai dengan pola-pola dasar ini (universalia ante rem = universalia yang berada sebelum berada sebagai benda).
b. Sebagai bentuk-bentuk yang telah direalisisasi dalam kenyataan; yaitu yang berada sebagai benda. Dalam tiap benda, idea yang yang ada dalam kesadaran Allah tadi direalisasi secara lebih atau kurang sempurna (universalia in re = universalia yang berada di dalam bendanya sendiri).
c. Sebagai bentuk yang dihasilkan oleh roh manusia, yaitu dengan jalan mengabstrakkan bendanya yang bermacam-macam itu. Setelah benda-bendanya ada, pengertian jenisnya dibentuk dari benda-benda yang bersama dengan benda yang lain diamati (universalia post rem = universalia yang dikonsepkan setelah bendanya ada). Maka dapat disimpulkan bahwa pengertian-pengertian jenis itu dibentuk dari kenyataan yang dihadapkan pada manusia. Benda-bendanya berada terlebih dahulu, lalu baru dibentuk pengertian jenisnya dengan membandingkan benda-benda itu satu dengan yang lain. Senantiasa mulai dengan mengamati kenyataan kemudian baru dibentuk pengertian jenis itu sesuai dengan kenyataannya. Maka dengan pengalaman manusia naikke dunia benda-benda abstrak hingga sampai kepada Allah .
Manusia
Ketertarikan Albertus pada manusia didominasi oleh perhatiannya pada relasi jiwa dan tubuh dan peranan penting intelek dalam psikologi manusia. Menurutnya, esensi manusia bukanlah pada inteleknya. Dengan memperhatikan hubungan antara jiwa dan badan, Albertus nampak dipengaruhi oleh teori Platonik yang melihat jiwa sebagai suatu bentuk yang mampu berdiri sendiri disamping tubuh dengan teori hylemorphisme Aristotelian yang mengurangi hubungan fungsional jiwa dengan tubuh . Untuk memecahkan dua pandangan ini Albertus menempatkan dirinya pada posisi Avicenna yang mengatakan bahwa analisis Aristoteles berfokus pada fungsi jiwa, bukan pada esensi jiwa. Albertus berargumen bahwa jiwa adalah penyebab badan. “Sebagaimana kita lihat bahwa jiwa adalah penyebab dari tubuh yang berjiwa dan dari gerakan serta keinginannya sejauh hal itu dijiwai. Dia menambahkan, “demikian juga kita sebaiknya menjaga bahwa intelegensi yang paling bawah merupakan penyebab dari jiwa yang sadar sejauh sebagaimana hal itu sadar karena pengertian jiwa adalah sebuah hasil dari terang intelegensi”. Diciptakan dalam rupa Allah hal itu tidak hanya menguasai dan memerintah tubuh, seperti Allah memerintah alam semesta, tetapi jiwa bertanggung jawab pada eksistensi tubuh, sebagaimana Allah adalah pencipta dunia. Dan sebagaimana pula Allah melampaui ciptaanNya, demikian juga jiwa manusia melampaui tubuh dalam perhatiannya. Fungsi transendental dari jiwa ini membuat Albert memfokuskan pada apa yang dia percayai merupakan esensi dari jiwa – intelek manusia.
Jiwa manusia merupakan sebuah substansi yang tak bertubuh. Albert membedakan substansi spiritual ini ke dalam dua bentuk daya - intelek agen (the agent intellect) dan intelek yang memungkinkan (the possible intellect). Tak satu pun dari daya-daya ini yang membutuhkan tubuh agar berfungsi. Dibawah kondisi-kondisi tertentu mengenai daya-daya tersebut, intelek manusia mampu untuk bertransformasi. ‘Intelek yang mungkin’ dapat mempertimbangkan sebuah bentuk ilusi yang dapat dimengerti serta beroperasi dibawah satu-satunya pengaruh ‘intelek agen’. ‘intelek yang mungkin’ menjalani suatu transformasi yang lengkap dan menjadi teraktualisasi secara utuh yang disebut sebagai “intelek yang cakap” (intellectus adeptus). Pada tahap ini intelek manusia rentan terhadap iluminasi oleh intelek kosmis yang lebih tinggi yang disebut “intelegensi”. Iluminasi seperti itu membawa jiwa manusia ke dalam harmoni yang utuh dengan seluruh urutan penciptaan dan merupakan kebahagiaan alami manusia. Kondisi perkembangan puncak manusia ini disebut “intelek yang terasimilasi” (intellectus assimilativus); kondisi tercapainya suatu intelek yang terasimilasi merupakan kebahagiaan alami manusia dengan menyadari semua aspirasi dari kondisi manusia dan kebudayaan manusia. Akan tetapi pikiran manusia tidak dapat mencapai asimilasi ini pada dirinya sendiri karena ‘kebenaran ilahi terletak melampaui pikiran sedang pikiran tidak akan mampu untuk menemukannya, kecuali dengan merendahkan diri’ …hal itu merupakan penggerak dari dalam, yang tanpanya penggerak dari luar bekerja tanpa tujuan. Ada suatu infusi termasuk iluminasi ilahi, yang merupakan infusi dari penggerak yang ada di dalam, yang dikenali oleh kebenaran ilahi itu sendiri. Penggerak dari dalam ini menguatkan kelemahan intelek manusia yang olehnya sendiri tidak dapat maju tanpa dorongan eksternal. Albert membedakan pendorong mengenai pengajar dari dalam (interior teacher) dan obyek final dari yang sejati. Terang ilahi merupakan sarana yang olehnya intelek dapat mencapai objeknya. Hal ini tetap, dengan penekanan atas analogi mengenai terang ilahi dan terang fisik, bahwa di dalam urutan pengetahuan manusia yang pertama dari semua bentuk berasal dari hal-hal eksternal. Semua itu tidak bisa mengajarkan apa-apa sampai terang penggerak dari dalam mengiluminasinya. Jadi, terang merupakan perantara visi ini. Akan tetapi, penggerak dari dalam itu sendiri dikenali bersama kebenaran ilahi, yang merupakan obyek final dan kesempurnaan dari intelek manusia.
Tanggapan
Melihat pemikiran Albertus, rupanya ia membuat pembedaan antara apa yang berkaitan dengan Yang Ilahi dan apa yang berkaitan dengan dunia; antara teologi yang bersandar pada iman dengan filsafat yang bekerja dengan akal budi. Pemikiran Albertus banyak dikuasai oleh unsur-unsur ajaran Aristoteles, seperti mengenai “Penggerak Pertama yang tidak digerakkan” (actus purus). Meski demikian Albertus masih menggunakan beberapa unsur pemikiran Neoplatonis, terutama ajaran Dionisius dari Aeropagus yang menyatakan bahwa segala sesuatu berasal dari Yang Ilahi dan segala nama yang digunakan untuk menyebut Allah sama sekali tidak memadai karena Allah jauh melebihi segala sebutan dan pengertian manusia. Selain itu, juga disinggung bahwa Penggerak Pertama merupakan Yang baik itu sendiri, atau yang disebut sebagai “to agathon”, sebagai sesuatu yang paling padat dan paling sempurna yang merupakan “mengadanya segala mengada”.
Pandangannya mengenai manusia juga berkisar pada pemikiran Platonis yang mengatakan bahwa makhluk hidup mempunyai dua aspek, yaitu jiwa dan badan yang merupakan dua substansi yang berbeda. Sedang pandangannya mengenai penciptaan tidak mengikuti pandangan Neoplatonis bahwa segala sesuatu yang berasal dari Yang Ilahi, melainkan konsep penciptaan dari Kitab Suci yang mengatakan bahwa penciptaan itu dari “yang tidak ada” (creatio ex nihilo).
Berdasarkan itu semua, bisa dilihat bahwa pemikiran Albertus ini merupakan gabungan pemikiran antara pemikiran Aristoteles dengan unsur-unsur dari Neoplatonis untuk menjelaskan apa yang gereja ajarkan saat itu. Sebagai seorang pemikir besar gereja, Albertus memberi jalan pada pemikiran mengenai pembuktian “beradanya Allah” yang dibuktikan secara a posteriori, yang kemudian dilanjutkan oleh Thomas Aquinas dengan memberikan 5 bukti mengenai adanya Allah.
Daftar Pustaka
Bertens, K. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1976
Copleston, Frederick. A History of Philosophy Volume II Medieval Philosophy. New York: Image Book, 1993.
Hadiwijono, R. Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta: Kanisius, 1980.
http://www.seop.leeds.ac.uk/entries/albert-great/, diakses 16 April 2008 pkl. 20:35
Albertus Agung (Albert The Great) lahir sekitar tahun 1205-an di Lauingen an Der Donau, Jerman. Pada tahun 1223 dia belajar di Universitas Padua, dan pada tahun yang sama dia diterima masuk Ordo Dominikan. Dia dikirim ke Cologne untuk belajar teologi sampai tahun 1228 dan setelah itu dia mengajar di beberapa rumah Dominikan di Jerman. Albertus menyelesaikan studi teologi dan mengambil master teologi di Universitas Paris. Thomas Aquinas termasuk salah seorang muridnya di Paris dan pernah mengikutinya ke Jerman dimana Albertus mendirikan suatu “studium generale” bagi Ordo Dominikan, hingga akhirnya Thomas kembali ke Paris dan Albertus dipilih sebagai Prior Provincial Jerman pada tahun 1254. Albertus pernah mendapat tugas dari Paus Aleksander IV untuk pergi ke Anagni dan berbicara dengan suatu Komisi Kardinal yang sedang memperhatikan masalah klaim William dari St. Amour melawan ordo-ordo mendican. Pada tahun 1274 ketika sedang mengikuti Konsili Lyon Albertus menerima berita meninggalnya murid dan sahabatnya yaitu Thomas Aquinas, dan segera setelah itu dia kembali ke Jerman. Pada suatu saat di tahun 1277 Albertus pergi ke Universitas Paris untuk membela pemikiran Aquinas yang banyak diserang dan diperdebatkan di sana. Pada 15 November 1280 Albertus meninggal dan dimakamkan di Cologne. Pada tanggal 15 Desember 1231 Paus Pius XI menyatakan Albertus sebagai seorang santo dan doktor gereja dan setelah itu dinyatakan sebagai pelindung ilmu pengetahuan alam pada tanggal 16 Dsember 1241 oleh Paus Pius XII .
Metafisika
Secara hakiki iman harus dibedakan dengan pengetahuan yang diperoleh dengan akal. Pada pengetahuan suatu kebenaran diterima karena kejelasannya, yang dikuatkan dengan bukti-bukti. Tetapi tidak demikian dengan iman. Pada iman tiada kejelasan berdasarkan akal. Kebenaran yang diterima iman bukan karena kejelasan kebenaran itu. Perbuatan iman lebih berdasarkan atas rasa-perasaan daripada atas pertimbangan akal. Maka, isi kebenaran iman tidak dapat dibuktikan. Bahwa dunia diciptakan oleh Allah dalam waktu tidak dapat dibuktikan. Oleh karena itu penciptaan dalam waktu adalah suatu kebenaran iman. Akan tetapi bahwa Allah ada dapat dibuktikan, sekalipun pembuktian itu dilakukan secara a posteriori. Maka, “adanya Allah” bukan kebenaran iman, melainkan dasar iman.
Menurut Albertus, “beradanya Allah” dapat dibuktikan. Untuk membuktian adanya Allah, Albertus mengikuti jalan pikiran Aristoteles tentang adanya “Penggerak Pertama”. Jika benar Penggerak Pertama itu menjadi asas atas segala sesuatu, maka Penggerak Utama itu secara mutlak harus ada, yakni sebagai aktus murni dan tanpa potensi. Aktus murni tak lain adalah Akal yang mengenal diriNya sendiri secara murni. Jalan pikiran Aristoteles ini oleh Albertus ditambah dengan gagasan Dionisius dari Aeropagus yang menyatakan bahwa segala nama yang kita pakai untuk menyebut Allah sebenarnya tidak memadai karena Allah jauh lebih mulia daripada segala sebutan dan pengertian manusia. Mengenai penciptaan dikatakan bahwa segala sesuatu dihasilkan Allah sebagai Sebab Pertama secara bertingkat-tingkat . Jadi dalam hal ini penciptaan dijelaskan dengan teori emanasi Neoplatonisme . Meski demikian, Albertus tidak mengajarkan emanasi Neoplatonisme. Ia tetap memegang teguh gagasan tentang penciptaan menurut kitab suci, yaitu penciptaan dari “yang tidak ada” (creatio ex nihilo), sehingga tidak mungkin bahwa dunia telah ada sejak kekal. Bahwa dunia diciptakan oleh Allah adalah sebuah kebenaran iman yang tidak dapat dibuktikan oleh akal. Menurut Albertus, yang pertama-tama diciptakan oleh Allah adalah materi pertama (materia prima) yang berada secara murni potensial dan menjadi asas segala individuasi . Sama halnya dengan Aristoteles, Albertus tidak bisa menerima bahwa makhluk-makhluk yang murni rohani terdiri dari materi dan bentuk. Baginya, hanya malaikatlah yang memerlukan semacam dasar bagi bentuk mereka.
Dalam ajarannya mengenai universalia, ia menggabungkan pendapat Aristoteles dengan ajaran Neoplatonisme. Menurutnya, universalia hanya berada sebagai bentuk saja. Ada 3 macam cara berada bentuk-bentuk itu, yaitu:
a. Sebagai bentuk-bentuk yang berada di dalam kesadaran atau akal Allah, yaitu idea-idea atau pola dasar segala yang berada secara konkrit di dunia ini. Segala sesuatu yang diciptakan Allah diciptakan sesuai dengan pola-pola dasar ini (universalia ante rem = universalia yang berada sebelum berada sebagai benda).
b. Sebagai bentuk-bentuk yang telah direalisisasi dalam kenyataan; yaitu yang berada sebagai benda. Dalam tiap benda, idea yang yang ada dalam kesadaran Allah tadi direalisasi secara lebih atau kurang sempurna (universalia in re = universalia yang berada di dalam bendanya sendiri).
c. Sebagai bentuk yang dihasilkan oleh roh manusia, yaitu dengan jalan mengabstrakkan bendanya yang bermacam-macam itu. Setelah benda-bendanya ada, pengertian jenisnya dibentuk dari benda-benda yang bersama dengan benda yang lain diamati (universalia post rem = universalia yang dikonsepkan setelah bendanya ada). Maka dapat disimpulkan bahwa pengertian-pengertian jenis itu dibentuk dari kenyataan yang dihadapkan pada manusia. Benda-bendanya berada terlebih dahulu, lalu baru dibentuk pengertian jenisnya dengan membandingkan benda-benda itu satu dengan yang lain. Senantiasa mulai dengan mengamati kenyataan kemudian baru dibentuk pengertian jenis itu sesuai dengan kenyataannya. Maka dengan pengalaman manusia naikke dunia benda-benda abstrak hingga sampai kepada Allah .
Manusia
Ketertarikan Albertus pada manusia didominasi oleh perhatiannya pada relasi jiwa dan tubuh dan peranan penting intelek dalam psikologi manusia. Menurutnya, esensi manusia bukanlah pada inteleknya. Dengan memperhatikan hubungan antara jiwa dan badan, Albertus nampak dipengaruhi oleh teori Platonik yang melihat jiwa sebagai suatu bentuk yang mampu berdiri sendiri disamping tubuh dengan teori hylemorphisme Aristotelian yang mengurangi hubungan fungsional jiwa dengan tubuh . Untuk memecahkan dua pandangan ini Albertus menempatkan dirinya pada posisi Avicenna yang mengatakan bahwa analisis Aristoteles berfokus pada fungsi jiwa, bukan pada esensi jiwa. Albertus berargumen bahwa jiwa adalah penyebab badan. “Sebagaimana kita lihat bahwa jiwa adalah penyebab dari tubuh yang berjiwa dan dari gerakan serta keinginannya sejauh hal itu dijiwai. Dia menambahkan, “demikian juga kita sebaiknya menjaga bahwa intelegensi yang paling bawah merupakan penyebab dari jiwa yang sadar sejauh sebagaimana hal itu sadar karena pengertian jiwa adalah sebuah hasil dari terang intelegensi”. Diciptakan dalam rupa Allah hal itu tidak hanya menguasai dan memerintah tubuh, seperti Allah memerintah alam semesta, tetapi jiwa bertanggung jawab pada eksistensi tubuh, sebagaimana Allah adalah pencipta dunia. Dan sebagaimana pula Allah melampaui ciptaanNya, demikian juga jiwa manusia melampaui tubuh dalam perhatiannya. Fungsi transendental dari jiwa ini membuat Albert memfokuskan pada apa yang dia percayai merupakan esensi dari jiwa – intelek manusia.
Jiwa manusia merupakan sebuah substansi yang tak bertubuh. Albert membedakan substansi spiritual ini ke dalam dua bentuk daya - intelek agen (the agent intellect) dan intelek yang memungkinkan (the possible intellect). Tak satu pun dari daya-daya ini yang membutuhkan tubuh agar berfungsi. Dibawah kondisi-kondisi tertentu mengenai daya-daya tersebut, intelek manusia mampu untuk bertransformasi. ‘Intelek yang mungkin’ dapat mempertimbangkan sebuah bentuk ilusi yang dapat dimengerti serta beroperasi dibawah satu-satunya pengaruh ‘intelek agen’. ‘intelek yang mungkin’ menjalani suatu transformasi yang lengkap dan menjadi teraktualisasi secara utuh yang disebut sebagai “intelek yang cakap” (intellectus adeptus). Pada tahap ini intelek manusia rentan terhadap iluminasi oleh intelek kosmis yang lebih tinggi yang disebut “intelegensi”. Iluminasi seperti itu membawa jiwa manusia ke dalam harmoni yang utuh dengan seluruh urutan penciptaan dan merupakan kebahagiaan alami manusia. Kondisi perkembangan puncak manusia ini disebut “intelek yang terasimilasi” (intellectus assimilativus); kondisi tercapainya suatu intelek yang terasimilasi merupakan kebahagiaan alami manusia dengan menyadari semua aspirasi dari kondisi manusia dan kebudayaan manusia. Akan tetapi pikiran manusia tidak dapat mencapai asimilasi ini pada dirinya sendiri karena ‘kebenaran ilahi terletak melampaui pikiran sedang pikiran tidak akan mampu untuk menemukannya, kecuali dengan merendahkan diri’ …hal itu merupakan penggerak dari dalam, yang tanpanya penggerak dari luar bekerja tanpa tujuan. Ada suatu infusi termasuk iluminasi ilahi, yang merupakan infusi dari penggerak yang ada di dalam, yang dikenali oleh kebenaran ilahi itu sendiri. Penggerak dari dalam ini menguatkan kelemahan intelek manusia yang olehnya sendiri tidak dapat maju tanpa dorongan eksternal. Albert membedakan pendorong mengenai pengajar dari dalam (interior teacher) dan obyek final dari yang sejati. Terang ilahi merupakan sarana yang olehnya intelek dapat mencapai objeknya. Hal ini tetap, dengan penekanan atas analogi mengenai terang ilahi dan terang fisik, bahwa di dalam urutan pengetahuan manusia yang pertama dari semua bentuk berasal dari hal-hal eksternal. Semua itu tidak bisa mengajarkan apa-apa sampai terang penggerak dari dalam mengiluminasinya. Jadi, terang merupakan perantara visi ini. Akan tetapi, penggerak dari dalam itu sendiri dikenali bersama kebenaran ilahi, yang merupakan obyek final dan kesempurnaan dari intelek manusia.
Tanggapan
Melihat pemikiran Albertus, rupanya ia membuat pembedaan antara apa yang berkaitan dengan Yang Ilahi dan apa yang berkaitan dengan dunia; antara teologi yang bersandar pada iman dengan filsafat yang bekerja dengan akal budi. Pemikiran Albertus banyak dikuasai oleh unsur-unsur ajaran Aristoteles, seperti mengenai “Penggerak Pertama yang tidak digerakkan” (actus purus). Meski demikian Albertus masih menggunakan beberapa unsur pemikiran Neoplatonis, terutama ajaran Dionisius dari Aeropagus yang menyatakan bahwa segala sesuatu berasal dari Yang Ilahi dan segala nama yang digunakan untuk menyebut Allah sama sekali tidak memadai karena Allah jauh melebihi segala sebutan dan pengertian manusia. Selain itu, juga disinggung bahwa Penggerak Pertama merupakan Yang baik itu sendiri, atau yang disebut sebagai “to agathon”, sebagai sesuatu yang paling padat dan paling sempurna yang merupakan “mengadanya segala mengada”.
Pandangannya mengenai manusia juga berkisar pada pemikiran Platonis yang mengatakan bahwa makhluk hidup mempunyai dua aspek, yaitu jiwa dan badan yang merupakan dua substansi yang berbeda. Sedang pandangannya mengenai penciptaan tidak mengikuti pandangan Neoplatonis bahwa segala sesuatu yang berasal dari Yang Ilahi, melainkan konsep penciptaan dari Kitab Suci yang mengatakan bahwa penciptaan itu dari “yang tidak ada” (creatio ex nihilo).
Berdasarkan itu semua, bisa dilihat bahwa pemikiran Albertus ini merupakan gabungan pemikiran antara pemikiran Aristoteles dengan unsur-unsur dari Neoplatonis untuk menjelaskan apa yang gereja ajarkan saat itu. Sebagai seorang pemikir besar gereja, Albertus memberi jalan pada pemikiran mengenai pembuktian “beradanya Allah” yang dibuktikan secara a posteriori, yang kemudian dilanjutkan oleh Thomas Aquinas dengan memberikan 5 bukti mengenai adanya Allah.
Daftar Pustaka
Bertens, K. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1976
Copleston, Frederick. A History of Philosophy Volume II Medieval Philosophy. New York: Image Book, 1993.
Hadiwijono, R. Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta: Kanisius, 1980.
http://www.seop.leeds.ac.uk/entries/albert-great/, diakses 16 April 2008 pkl. 20:35
POKOK-POKOK TEORI ALLPORT
KEPRIBADIAN
Struktur dan Dinamika Kepribadian
Struktur dan dinamika kepribadian tampak dalam tingkah laku yang didorong oleh sifat-sifat (traits). Psikologi Allport disebut Trait Psychology.
Kepribadian (personality) adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.
Kata-kata kunci:
• Organisasi dinamis: kepribadian selalu berkembang meski ada organisasi sistem yang mengikat dan menghubungkan berbagai macam komponen di dalamnya.
• Sistem Psikofisis: mencakup setiap aktifitas tubuh dan jiwa dalam kesatuan kepribadian.
• Khas: tak ada dua orang yang memiliki kepribadian yang identik.
• Menyesuaikan diri dengan lingkungan: meletakkan kepribadian sebagai perantara seseorang dengan lingkungan fisik dan psikologisnya.
Karakter/watak (character) adalah kepribadian yang dievaluasi atau dinilai. Biasanya karakter menunjuk arti normatif (character is a personality evaluated and personality is character devaluated).
Temperamen (temperament) adalah watak/disposisi yang sangat erat hubungannya dengan faktor-faktor biologis dan psikologis dan sedikit mengalami modifikasi dalam perkembangan. Secara definitf watak dijelaskan sebagai gejala karakteristik dari sifat emosi individu termasuk mudah tidaknya terangsang secara emosional, kecepatan dan kekuatan reaksi, kualitas suasana hati, fluktuasi dan intensitas suasana hati; dimana gejala ini tergantung faktor konstitusional yang oleh karenanya berasal dari faktor keturunan.
Perkembangan Kepribadian
Perkembangan adalah proses differensiasi dan integrasi yang berkesinambungan
Kepribadian adalah gejala dinamis yang melingkupi aspek psiklogis dan fisiologis
Neonatus adalah makhluk yang dilengkapi dengan keturunan-keturunan, dorongan-dorongan/ hasrat, dan refleks-refleks.
Perkembangan kepribadian mencakup:
a. Kanak-kanak
Dua tahun pertama akan tampak dengan pasti sifat-sifat khas mereka
b. Transformasi kanak-kanak
Perkembangan Proprium
0-3 tahun : - mengenali tubuh fisik sebagai “diriku”
- kesadaran bahwa aku memiliki keberlanjutan dalam waktu dan ruang
- karena mampu melakukan suatu hal, mengendalikan dunia seseorang
4-6 tahun : - perasaan keterhubungan dengan orang dan hal-hal yang penting
dalam hidup seseorang
- perasaan mengenai siapakah diriku, mau menjadi apa, harus bagaimana
6-12 tahun : - pengakuan akan kemampuan untuk mengatasi masalah dengan alasan
dan pikiran
Adolescence : - rencana-rencana dan tujuan-tujuan untuk masa depan
c. Orang Dewasa
Seseorang disebut dewasa ketika faktor penentu tingkah lakunya merupakan sifat-sifat yang terorganisir dan selaras.
Kualitas pribadi yang dewasa:
1. extention of the sense: kemampuan untuk berpartisipasi dan menikmati berbagai aktivitas; mengenali seseorang dan perhatian seseorang dengan yang lain beserta ketertarikannya; dan merencanakan masa depan – harapan dan rencana.
2. warm relating of self to others: kecakapan dalam keintiman/kedekatan dan perhatian; menyangkut relasi dengan keluaga dan teman; sedang perhatian diungkapkan dalam relasi yang menghormati dan menghargai dengan semua orang.
3. emotional security (self-acceptance): kemampuan untuk menghindari tindakan berlebih untuk masalah-masalah yang menyinggung dorongan yang khusus dan sabar menghadapi frustasi; kontrol diri
4. realistic perceptions, skills, assignments: kemampuan untuk melihat orang, objek, dan situasi; kecakapan dan perhatian dalam memecahkan masalah, memiliki skill untuk suatu tugas tertentu, mampu mengenali tuntutan-tuntutan hidup ekonomi tanpa menjadi panik
5. self-objectification: insight and humor: kemampuan menjadi objektif, baik mengenai seseorang ataupun yang lainnya. Bisa memahami seseorang dan memiliki rasa humor dimana tidak hanya soal senang dan tertawa melainkan mampu menghubungkan secara positif diri dengan yang lainnya.
6. unifying philosophy of life: ada suatu usaha untuk memberi tujuan dan makna atas apa yang seseorang lakukan. Agama merupakan sebuah sumber yang penting untuk mendapatkan hal itu meskipun itu bukanlah satu-satunya.
Secara ringkas dapatdikatakan:
Manusia yang dewasa adalah manusia yang rasional pribadinya dimimbing oleh kesadaran atas kekinian dan masa depan, bukan masa lalu.
Sifat (trait)
Adalah sistem neuropsikis yang digeneralisasikan dan diarahkan, dengan kemampuan menghadapi bermacam perangsang, memulai dan membimbing tingkah laku adaptif danekspresif secara sama. Ini berarti bahwa kecenderungan terjadi dengan seluruh pribadi manusia. Allport memandang sifat sebagai yang sungguh eksis dalam pribadi manusia. Sifat mempunyai lebih dari hanya sekadar eksistensi nominal; sifat tak tergantung pada pengamat tetapi ada pada pribadi manusia.
• Sifat umum: aspek-aspek yan sama dari sifat-sifat individual yang kompleks.
• Sifat personal: apa yang unik dan ada dalam individu.
Beberapa pengertian yang harus dibedakan dengan pengertian sifat:
Kebiasaan (habit)
Kebiasaan bersifat lebih khusus dibanding sifat yang lebih umum, baik dalam situasi yang disesuaikannya maupun dalam berbagai respon yang muncul darinya.
Sikap (attitude)
Yang memulai tingkah laku dan merupakan hasil dari faktor genetis dan pembelajaran.
Perbedaan spesifik:
• Sikap: berhubungan dengan suatu objek, dan dapat berbeda-beda dari dari yang lebih khusus ke yang lebih umum
• Sifat: tidak berhubungan dengan suatu objek, selalu umum.
Allport membagi tiga jenis sifat: cardinal trait, central trait, dan secondary trait.
Cardinal trait (sifat pokok)
• Akar dari segala tindakan
• Menandakan individu
• Dominan dalam individu
• Relatif kurang biasa dan kurang nampak pada setiap orang
• Ex: sebutan machiavellian bagi orang yang mungkin sering melakukan manipulasi
central trait (sifat sentral)
• Lebih khas dari watak pokok
• Merupakan berbagai kecenderungan individu yang khas
• Sering berfungsi/muncul dan mudah ditandai
• Ex: menyebut Hamlet karya Shakespeare sebagai dramatis, melankolis.
Secondary trait (sifat sekunder)
• Berfungsi lebih terbatas dan kurang umum
• Kurang menentukan dan dalam deskripsi kepribadian
• Lebih terpusat pada respon-respon yang sesuai dengannya
Tipe (type)
Orang dapat memiliki suatu sifat tetapi tidak memiliki suatu tipe. Tipe adalah konstruksi ideal si pengamat dan seseorang dapat disesuaikan dengan tipe tersebut dengan konsekuensi pengabaian sifat-sifat khas individualnya. Ini berarti bahwa tipe menyembunyikan sifat khas pribadi. Tipe menunjukkan perbedaan-perbedaan buatan yang tidak begitu sesuai dengan kenyataan, sedang sifat dalah refleksi sebenarnya dari yang benar-benar ada.
Intensi (intention)
Ialah harapan-harapan, keinginan-keinginan, ambisi, atau cita-cita seseorang. Allport menolak masa lalu sebagai elemen penting motivasi. Baginya, apa yang akan coba dilakukan sekarang merupakan kunci dan hal terpenting bagi yang dikerjakannya sekarang.
Otonomi Fungsional (functional autonomy)
Aktivitas tertentu dapat menjadi tujuan sendiri meski mula-mula terjadi karena suatu alasan lain. Tiap aktivitas dapat terus berlangsung dengan sendirinya tanpa adanya faktor biologis yang memperkuat (without biological reinforcement).
Ex: pemburu akan tetap berburu meskipun tidak ada dorongan agresi/kebutuhan lain yang lebih pokok yang mendasari perbuatan berburu.
Bukti adanya functional autonomy:
- The circular effect
Ex: seorang anak mengoceh dengan kata-kata sama dan diulang-ulang
- Conative perserevation
Ex: tugas yang belum selesai dan mendapat interupsi cenderung lebih diingat daripada tugas yang telah selesai.
- Refleks bersyarat tanpa reinforcement
Ex: pengalaman traumatis
Prinsip Otonomi Funsional
- terikat pada kekinian, tidak terikat pada asal mula dorongan itu
- mengalami perubahan seiring dengan dinamika pertumbuhan
- menjadi ukuran bagi tahap kedewasaan seseorang
- struktur dinamis kepribadian itu unik meski ada kemiripan dalam batas tertentu
- kepribadian yang dewasa secara hakiki
Proprium
Adalah semua fungsi dalam ego dan apa yang langsung kita sadari, meliputi sense of bodily self, sense of continuing self-identity, self esteem or pride, the extention of self, the self of rational coper or rational thinking, propriate striving, dan fungsi mengenal (the knowing me). Proprium tidak dibawa sejak lahir melainkan berkembang dalam perkembangan individu.
Allport telah menjembatani psikologi akademis dan psikologi klinis dengan penekanannya pada studi-studi kasus perorangan, pentingnya motivasi yang sadar dan pengendalian motivasi saat ini dan masa depan. Dia mempunyai pengaruh dalam pembaharuan konsep ego. Pandangan-pandangannya telah diterima dalam kalangan psikolog ego dan psikoanalist.
Beberapa kritik atas karya Allport:
1. karya-karyanya cenderung menawarkan teori yang tidak sesuai dengan persamaan formal, sehingga tidak selalu memadai untuk setiap penelitian
2. tidak menunjukkan konsep pokoknya, yakni fungsi ekonomi
3. mengasumsikan adanya diskontinuitas antara binatangdan manusia, masa kanak-kanak dan dewasa, normal dan abnormal
4. menekankan keunikan kepribadian
5. perhatiannya sangat minim terhadap pengaruh sosial dan faktor situasional
6. menggambarkan manusia dalam gambaran yang terlalu positif
Struktur dan Dinamika Kepribadian
Struktur dan dinamika kepribadian tampak dalam tingkah laku yang didorong oleh sifat-sifat (traits). Psikologi Allport disebut Trait Psychology.
Kepribadian (personality) adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.
Kata-kata kunci:
• Organisasi dinamis: kepribadian selalu berkembang meski ada organisasi sistem yang mengikat dan menghubungkan berbagai macam komponen di dalamnya.
• Sistem Psikofisis: mencakup setiap aktifitas tubuh dan jiwa dalam kesatuan kepribadian.
• Khas: tak ada dua orang yang memiliki kepribadian yang identik.
• Menyesuaikan diri dengan lingkungan: meletakkan kepribadian sebagai perantara seseorang dengan lingkungan fisik dan psikologisnya.
Karakter/watak (character) adalah kepribadian yang dievaluasi atau dinilai. Biasanya karakter menunjuk arti normatif (character is a personality evaluated and personality is character devaluated).
Temperamen (temperament) adalah watak/disposisi yang sangat erat hubungannya dengan faktor-faktor biologis dan psikologis dan sedikit mengalami modifikasi dalam perkembangan. Secara definitf watak dijelaskan sebagai gejala karakteristik dari sifat emosi individu termasuk mudah tidaknya terangsang secara emosional, kecepatan dan kekuatan reaksi, kualitas suasana hati, fluktuasi dan intensitas suasana hati; dimana gejala ini tergantung faktor konstitusional yang oleh karenanya berasal dari faktor keturunan.
Perkembangan Kepribadian
Perkembangan adalah proses differensiasi dan integrasi yang berkesinambungan
Kepribadian adalah gejala dinamis yang melingkupi aspek psiklogis dan fisiologis
Neonatus adalah makhluk yang dilengkapi dengan keturunan-keturunan, dorongan-dorongan/ hasrat, dan refleks-refleks.
Perkembangan kepribadian mencakup:
a. Kanak-kanak
Dua tahun pertama akan tampak dengan pasti sifat-sifat khas mereka
b. Transformasi kanak-kanak
Perkembangan Proprium
0-3 tahun : - mengenali tubuh fisik sebagai “diriku”
- kesadaran bahwa aku memiliki keberlanjutan dalam waktu dan ruang
- karena mampu melakukan suatu hal, mengendalikan dunia seseorang
4-6 tahun : - perasaan keterhubungan dengan orang dan hal-hal yang penting
dalam hidup seseorang
- perasaan mengenai siapakah diriku, mau menjadi apa, harus bagaimana
6-12 tahun : - pengakuan akan kemampuan untuk mengatasi masalah dengan alasan
dan pikiran
Adolescence : - rencana-rencana dan tujuan-tujuan untuk masa depan
c. Orang Dewasa
Seseorang disebut dewasa ketika faktor penentu tingkah lakunya merupakan sifat-sifat yang terorganisir dan selaras.
Kualitas pribadi yang dewasa:
1. extention of the sense: kemampuan untuk berpartisipasi dan menikmati berbagai aktivitas; mengenali seseorang dan perhatian seseorang dengan yang lain beserta ketertarikannya; dan merencanakan masa depan – harapan dan rencana.
2. warm relating of self to others: kecakapan dalam keintiman/kedekatan dan perhatian; menyangkut relasi dengan keluaga dan teman; sedang perhatian diungkapkan dalam relasi yang menghormati dan menghargai dengan semua orang.
3. emotional security (self-acceptance): kemampuan untuk menghindari tindakan berlebih untuk masalah-masalah yang menyinggung dorongan yang khusus dan sabar menghadapi frustasi; kontrol diri
4. realistic perceptions, skills, assignments: kemampuan untuk melihat orang, objek, dan situasi; kecakapan dan perhatian dalam memecahkan masalah, memiliki skill untuk suatu tugas tertentu, mampu mengenali tuntutan-tuntutan hidup ekonomi tanpa menjadi panik
5. self-objectification: insight and humor: kemampuan menjadi objektif, baik mengenai seseorang ataupun yang lainnya. Bisa memahami seseorang dan memiliki rasa humor dimana tidak hanya soal senang dan tertawa melainkan mampu menghubungkan secara positif diri dengan yang lainnya.
6. unifying philosophy of life: ada suatu usaha untuk memberi tujuan dan makna atas apa yang seseorang lakukan. Agama merupakan sebuah sumber yang penting untuk mendapatkan hal itu meskipun itu bukanlah satu-satunya.
Secara ringkas dapatdikatakan:
Manusia yang dewasa adalah manusia yang rasional pribadinya dimimbing oleh kesadaran atas kekinian dan masa depan, bukan masa lalu.
Sifat (trait)
Adalah sistem neuropsikis yang digeneralisasikan dan diarahkan, dengan kemampuan menghadapi bermacam perangsang, memulai dan membimbing tingkah laku adaptif danekspresif secara sama. Ini berarti bahwa kecenderungan terjadi dengan seluruh pribadi manusia. Allport memandang sifat sebagai yang sungguh eksis dalam pribadi manusia. Sifat mempunyai lebih dari hanya sekadar eksistensi nominal; sifat tak tergantung pada pengamat tetapi ada pada pribadi manusia.
• Sifat umum: aspek-aspek yan sama dari sifat-sifat individual yang kompleks.
• Sifat personal: apa yang unik dan ada dalam individu.
Beberapa pengertian yang harus dibedakan dengan pengertian sifat:
Kebiasaan (habit)
Kebiasaan bersifat lebih khusus dibanding sifat yang lebih umum, baik dalam situasi yang disesuaikannya maupun dalam berbagai respon yang muncul darinya.
Sikap (attitude)
Yang memulai tingkah laku dan merupakan hasil dari faktor genetis dan pembelajaran.
Perbedaan spesifik:
• Sikap: berhubungan dengan suatu objek, dan dapat berbeda-beda dari dari yang lebih khusus ke yang lebih umum
• Sifat: tidak berhubungan dengan suatu objek, selalu umum.
Allport membagi tiga jenis sifat: cardinal trait, central trait, dan secondary trait.
Cardinal trait (sifat pokok)
• Akar dari segala tindakan
• Menandakan individu
• Dominan dalam individu
• Relatif kurang biasa dan kurang nampak pada setiap orang
• Ex: sebutan machiavellian bagi orang yang mungkin sering melakukan manipulasi
central trait (sifat sentral)
• Lebih khas dari watak pokok
• Merupakan berbagai kecenderungan individu yang khas
• Sering berfungsi/muncul dan mudah ditandai
• Ex: menyebut Hamlet karya Shakespeare sebagai dramatis, melankolis.
Secondary trait (sifat sekunder)
• Berfungsi lebih terbatas dan kurang umum
• Kurang menentukan dan dalam deskripsi kepribadian
• Lebih terpusat pada respon-respon yang sesuai dengannya
Tipe (type)
Orang dapat memiliki suatu sifat tetapi tidak memiliki suatu tipe. Tipe adalah konstruksi ideal si pengamat dan seseorang dapat disesuaikan dengan tipe tersebut dengan konsekuensi pengabaian sifat-sifat khas individualnya. Ini berarti bahwa tipe menyembunyikan sifat khas pribadi. Tipe menunjukkan perbedaan-perbedaan buatan yang tidak begitu sesuai dengan kenyataan, sedang sifat dalah refleksi sebenarnya dari yang benar-benar ada.
Intensi (intention)
Ialah harapan-harapan, keinginan-keinginan, ambisi, atau cita-cita seseorang. Allport menolak masa lalu sebagai elemen penting motivasi. Baginya, apa yang akan coba dilakukan sekarang merupakan kunci dan hal terpenting bagi yang dikerjakannya sekarang.
Otonomi Fungsional (functional autonomy)
Aktivitas tertentu dapat menjadi tujuan sendiri meski mula-mula terjadi karena suatu alasan lain. Tiap aktivitas dapat terus berlangsung dengan sendirinya tanpa adanya faktor biologis yang memperkuat (without biological reinforcement).
Ex: pemburu akan tetap berburu meskipun tidak ada dorongan agresi/kebutuhan lain yang lebih pokok yang mendasari perbuatan berburu.
Bukti adanya functional autonomy:
- The circular effect
Ex: seorang anak mengoceh dengan kata-kata sama dan diulang-ulang
- Conative perserevation
Ex: tugas yang belum selesai dan mendapat interupsi cenderung lebih diingat daripada tugas yang telah selesai.
- Refleks bersyarat tanpa reinforcement
Ex: pengalaman traumatis
Prinsip Otonomi Funsional
- terikat pada kekinian, tidak terikat pada asal mula dorongan itu
- mengalami perubahan seiring dengan dinamika pertumbuhan
- menjadi ukuran bagi tahap kedewasaan seseorang
- struktur dinamis kepribadian itu unik meski ada kemiripan dalam batas tertentu
- kepribadian yang dewasa secara hakiki
Proprium
Adalah semua fungsi dalam ego dan apa yang langsung kita sadari, meliputi sense of bodily self, sense of continuing self-identity, self esteem or pride, the extention of self, the self of rational coper or rational thinking, propriate striving, dan fungsi mengenal (the knowing me). Proprium tidak dibawa sejak lahir melainkan berkembang dalam perkembangan individu.
Allport telah menjembatani psikologi akademis dan psikologi klinis dengan penekanannya pada studi-studi kasus perorangan, pentingnya motivasi yang sadar dan pengendalian motivasi saat ini dan masa depan. Dia mempunyai pengaruh dalam pembaharuan konsep ego. Pandangan-pandangannya telah diterima dalam kalangan psikolog ego dan psikoanalist.
Beberapa kritik atas karya Allport:
1. karya-karyanya cenderung menawarkan teori yang tidak sesuai dengan persamaan formal, sehingga tidak selalu memadai untuk setiap penelitian
2. tidak menunjukkan konsep pokoknya, yakni fungsi ekonomi
3. mengasumsikan adanya diskontinuitas antara binatangdan manusia, masa kanak-kanak dan dewasa, normal dan abnormal
4. menekankan keunikan kepribadian
5. perhatiannya sangat minim terhadap pengaruh sosial dan faktor situasional
6. menggambarkan manusia dalam gambaran yang terlalu positif
Subscribe to:
Comments (Atom)







